Setan Inggris

February 28, 2009 sarifitria

Oleh Sari Fitria

“Hi Lin! How’s everything?”
“Not bad, thank you.”
“What about your subject? Is it OK?”
“Yes.”
“By the way, is she your friend?”
“Yep, she’s Arin”
“What a beautiful name! Ops, I have to go, see you Lina, Arin.”
Lina segera menghela nafas panjang setelah kepergian cowok itu.
”Siapa sich tuch Lin? Sok inggris banget dech?” tanya Arin sambil melirik ke arah cowok yang mulai hilang dari pandangan matanya itu.
”Namanya Tomi rin, tetangga sekaligus temen kecil gue. Gue juga illfeel kali ma tu anak. Kalo ketemu gue, ngomongnya pasti sok inggris gitu. Mentang-mentang mahasiswa bahasa inggris” jawab Lina sinis yang dibalas anggukan Arin.
”Ho’oh Lin, kita juga mahasiswa Bahasa Inggris, tapi nggak segitu banget dech. Lagian pede banget ya temen lu, baru mahasiswa taun pertama dah ngomonng sok inggris gitu di luar kelas. Emang dia selalu ngomong Inggris ya?”
”Ga tau juga sich, tapi klo ketemu gue, si Tomi emang sering ngomong Inggris gitu. Dasar setan inggris tu orang.”
Arin yang ngedenger Lina manggil Tomi dengan sebutan setan inggris langsung ngakak. ”Keren tuh Lin namanya, setan inggris, hehe.., mulai sekarang kita manggil dia dengan nama setan inggris aja, cocok banget tuch ma dia” komentar Arin, mereka berdua pun langsung ketawa ngakak sambil ngebayangin cowok putih, jangkung, dan rada cute itu.
***
”Bener lho girls, si setan inggris tu pede banget. Dia nyapa Lina truz nanya-nanya pake english gitu,” cerita Arin antusias kepada beberapa teman sekelasnya. Lina yang juga berada di sana juga ikut ngangguk-ngangguk membenarkan omongan Arin.
”Tapi lo bisa balas omongan dia pake inggris juga khan Lin?” tanya Rara, cewek tomboi yang antusias mendengar kelanjutan cerita tentang setan inggris. ”Secara kelas kita khan lebih unggul daripada kelas si setan inggris itu. Lagian, lo juga lebih pinter dari dia khan. IP lo kemaren ja 4,” lanjut Rara lagi.
”Ya iyalah Ra, Lina tu lebih pinter ngomong inggrisnya. Kalo gue denger nich ya, pronounciation si setan inggris ga ok-ok banget kok.” tambah Arin lagi.
”Dia ngomong inggris ma lo juga nggak rin?” kali ini gilirin Devi, cewek pendek kurus yang nanya Arin.
”Iya, dia ngelirik ke arah gue trus nanya nanya is she your friend?” jawab Arin menirukan gaya Tomi saat nanya Lina tentang dirinya. Semua yang mendengarkan langsung pasang tampang jelek setelah mendengarkan cerita Arin.
”Gue jadi nggak sabar dech pengen ngeliat yang mana sich si setan inggris itu.” Ujar Devi yang dibalas anggukan dari yang lain.
“Kayaknya gue tau dech si setan inggris itu” Nadia yang dari tadi diam aja mulai angkat bicara. “Setan Inggris tu Tomi Afrianto yang anak kelas B itu kan?” tanya Nadia lagi mencoba meyakinkan dugaannya.
“Emang itu orangnya, cowok putih, kurus, dan rada cute itu” Lina langsung mengiyakan pertanyaan Nadia.
“Oo, dia orangnya. Berarti si setan inggris itu temen sekelas gue pas belajar listening dong!” ujar Nadia lagi dengan wajah berbinar karena sudah tau siapa cowok yang disebut-sebut sebagai setan inggris itu.
Nadia pun berjanji pada teman-teman lainnya akan menunjukkan cowok yang bernama Tomi Afrianto, atau yang lebih akrab dipanggil setan inggris oleh teman-temannya itu.
Akhirnya semua penasaran yang ada di kepala Dewi, Rara, dan yang lainnya pun sudah terpenuhi karena akhirnya mereka tau wujud dari si setan inggris.
“Itu lho, Cowok yang pake kaos biru,” jelas Nadia sambil mengarahkan telunjuknya ke cowok yang sedang membaca-baca pengumuman di depan jurusan Bahasa Inggris.
“Iya bener, itu dia setan inggris yang gue omongin dari kemaren,” tambah Lina sambil memonyongkan mulutnya ke arah cowok yang dulu teman akrabnya sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar. Anak lain pun langsung mengangguk setelah dapat menangkap sosok setan inggris yang sempat membuat mereka penasaran itu.
Tiba-tiba saja cowok yang berbaju biru itu menyadari kehadiran Lina dan langsung berjalan menghampiri Lina dan teman-temannya.
“ Hai Lin, Are you OK today?? By the way, are you at home at 4.00?”
“Yes, what’s up?”
“ Nothing special, but I hope we can talk together at 4.00, can you?”
“ I think so”
“Great, see you later Lin. Oo, maybe sometimes you can introduce your friends to me. I’ll be happy to be their friends, too.”
Teman-teman Lina yang menyaksikan perckapan singkat itu langsung heboh setelah kepergian Tomi.
“Gila, songong banget sich tu orang! Sok inggris banget” ujar Rara dengan nada mengejek. Yang lain mengangguk tanda setuju dengan ucapan Rara.
“Iya, dasar setan inggris!” umpat Lina kesal.
“Girls, bentar dulu dech, kok gue ngerasa setan inggris itu baek ya?” Nadia mulai mengemukakan pendapatnya yang berbeda dengan temanya yang laen.
“Baek gimana maksud lo?” tanya Dewi tidak setuju dengan pendapat Nadia.
“Kalian dengar nggak sich, tadi tu dia bilang kalo dia bakalan seneng jadi temen kita, lagian dia juga senyum kan ma kita. Tomi itu ramah lagi,” jelas Nadia merasa bersalah telah memanggil Tomi dengan sebutan setan inggris. Sayangnya, tak satu pun yang menghiraukan ucapannya, termasuk Lina yang telah kenal Tomi sejak dulu.
***
“Halo, kenapa Lin?” jawab Nadia sambil mendekatkan Nokia 7610 nya ke telinga. Tak terdengar sepatah kata pun dari seberang sana. “Lin, lo nggak baek-baek aja khan?” tanya Nadia lagi mulai khawatir.
Mulai terdengar suara dari seberang sana.
“Nad, gue mau ngomong tentang Tomi,” Lina mulai bicara dengan nada suara yang tak seperti biasanya.
“Kok suara lo kayak sedih gitu sich Lin? Emangnya kenapa sama si Tomi? Oia, jam empat tadi lo jadi ketemu ma dia? Ngomongin apa aja lo?”
“Itu dia Nad, gue jahat banget dech udah ngecap dia sebagai setan inggris”
“Kok lo jadi berubah pikiran gitu Lin? Mang Tomi ngomong apa ma lo?”
“Tadi tu Tomi cerita ke gue, katanya, papa dia nggak puas dengan IP nya yang kemaren. Papa Tomi bilang kalo dia nggak bisa ningkatin IP nya semester ini, papa nya Tomi bakal ngirim dia buat balik lagi ke Semarang. Nad, Tomi tu teman akrab gue waktu SD, waktu tamat SD, dia pindah ke Semarang dan baru balik sekarang buat kuliah di sini. Tapi, kayaknya papa Tomi lebih senang kalo dia kuliah di Semarang deh. Gue nggak tau kenapa Nad, yang pasti Tomi bilang dia mau tetap di Padang. Dia nggak mau ninggalin Padang lagi. Dia sering ngomong inggris ma gue dengan harapan gue bisa langsung ngoreksi kesalahan grammar dan pronounciation dia waktu ngomong. Gue jahat banget ya Nad,” cerita Nadia panjang lebar dengan suara penuh penyesalan.
“Nggak kok Lin, lo nggak jahat. Buktinya lo dah ngerasa bersalah banget kan? Lin, besok lo kenalin Tomi ma gue dan teman-teman kita yang lain ya, Tomi said that he will be very happy if he can be one of our friends, right?”
“Idih, Nad, lo ngapain sok ngomong inggris gitu, mau dipanggil setan inggris juga lo?”
“Yeeeeeeee, gue khan juga pengen lo ngoreksi grammar gue Lin. Dah bener atau belom tu kalimat gue yang tadi?”
Lina tak membalas pertanyyan Nadya. Dia merasa senang karena hubungannya dengan Tomi akan kembali indah seperti waktu mereka di Sekolah Dasar dulu.
***

Entry Filed under: cerpen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

February 2009
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Most Recent Posts

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.