Meningitis Menguji Kesabaran Seorang Ibu

February 13, 2009 sarifitria

Kesabaran seorang ibu diuji, itulah yang dirasakan Siti Nurmaida (36 th) selama lima tahun terakhir ini. Bagaimana tidak, dikala seorang ibu dikarunia anak, biasanya kebahagianlah yang melimpah ruah. Namum, tidak begitu yang dirasakan Mai (panggilan karab Siti Nurmaida) sejak buah hainya, Ivan divonis mengidap meningtis (radang selaput otak) krtika masih berusia 1,5 tahun. Kejadiannya berlangsung lima tahun yang lalu ketika Mai masih tinggal di Pekanbaru. Saat itu anak keduanya, Iven yang masih berusia 1,5 tahun mengalami demam yang diikuti diare dan derajat celcius. Dengancampak hingga suhu tubuhnya naik hingga 41 panik, Mai dan suaminya membawa Ivan ke Rumah Sakit di kawasan Jalan Soedirman, Pekanbaru dan dokter pun memvonis Ivan terkene meningtis. Lebih lanjut, sang dokter menjelaskanmeningtis adalah virus yang berawal dari demam yang diikuti komplikasi. Akibat virus ini, Ivan mengalami koma selama satu minggu. Kegundahan semakin merasuki Mai saat pihak medis memberi informasi dari sepuluh anak yang terkena merintis, cuma satu orang yang selamat. Kala itu hati Mai benar-benar diterpa kekhawatiran yang mendalam melihat keadaan buah hatinya itu.
Tampaknya secercah sinar kebahagiian mulai tampak oleh Mai. Ivan mulai menemukan kesadarannya setelah satu minggu dalam diam. Tapi, kesabaran Mai kembali diuji karena setelah sadar dari koma, kondisi Ivan kembali seperti bayi yang dilahirkan, badannya kaku dan ia tidak bisa menelungkup. Ternyata virus meningtis telah menyerang saraf motorik Ivan. Ivan yang telah berusia 1,5 tahun pun terjebak dalam kondisi dan keadaan seperti bayi yang baru dilahirkan.
Demi kesembuhan anaknya, Mai dan suaminya memutuskan untuk hijrah ke kota Padang. Dokter dan pengobatan yang sulit didapatkan di Pekanbaru memaksa Mai harus menetap di Padang hingga kini usia Ivan telah menginjak 5 tahun. Meskipun telah bertahun-tahun berlalu sejak Ivan koma, namun virus meningtis masih meninggalkan dampak terhadap tubuh kurus Ivan. Dalam kurun waktu dua bulan sekali, Mai harus membawa Ivan untuk check up ke Rumah Sakit M. Djamil Padang. Dua botol obat yang masing-masingnya berukuran 115 ml pun harus habis diteguk Ivan dalam waktu satu bulan. Usia 5 tahun bagi Ivan juga menguras pikiran Mai untuk memberikan pendidikan anak usia dini bagi Ivan. Jadilah Ivan mengenyam pendidikan TK (Taman Kanak-Kanak) di sebelah Panti Asuhan Budi Mulya di kawasan Simpang Aru.
Persoalan kembali melanda Mai saat guru Ivan bercerita tentang anaknya yang sangat berbeda dari murid TK lainnya. Sedikit pun Ivan tak mau memegang pensil, ia selalu berlari dan bergerak lincah melebih teman-temannya, namun dalam hal berbicara, Ivan tak lebih dari anak yang baru belajar bicara. Kata-kata yang keluar dari mulut Ivan tak sepenuhnya bisa dimengerti oleh orang yang mendengarnya. Hal ini dikarenakan lafal pengucapan Ivan yang masih seperti anak yang baru belajar bicara. Selain itu, Ivan yang selalu kelihatan lincah bergerak tak diiringi dengan kelincahannya untuk berbicara. Hanya sekali-kali saja Ivan mau mengeluarkan suaranya. “Kalau ingin mendengar Ivan berbicara panjang lebar, harus membutuhkan usaha yang keras,” ujar Mai.
Usaha untuk meningkatkan intensitas bicara Ivan membawa guru TKnya memberikan saran kepada Mai untuk mengikutsertakan Ivan ke dalam terapi bicara yang terdapat di Panti Asuhan Budi Mulya yang terletak di sebelah TK Ivan. Mai pun mengikuti saran itu dan mulailah terapi bicara Ivan dilaksanakan sejak Senin, 11 Agustus lalu. Subsidi dari Panti Asuhan tersebut menyebabkan Mai tak perlu membayar sepeserpun untuk terapi Ivan. Selama lima hari, dari Senin hingga Jum’at, Ivan dipancing untuk banyak bicara oleh seorang mahasiswa Psikologi Islam IAIN Padang yang bernama Tia. Ivan yang tak bisa diam di tempat dan selalu berlari-lari tak mematahkan semangt Tia untuk melatihnnya berbicara. Metode bermain sambil belajar tanpa paksaan sepertinya menjadi pilihan Tia untuk meningkatkan keamauan Ivan berbicara. Seperti Jum’at (15/8), tampak Tia dan Ivan tengah memegang layang-layang. Tia pun memancing Ivan agar mau mengucapkan ‘layang-layang’ yang diikuti Ivan dengan lafal yang tak begitu jelas. Saat Ivan melihat Handphone Tia, tangan mungilnya segera meraih handphone itu dan dalam sekejap Ivan telah hanyut memainkannnya. Tak diacuhkannya lagi usaha Tia untuk mengajaknya bicara. Begitulah salah satu petikan kegiatan mahasiswa Semester 5 itu dalam terapi bicara Ivan.
Selain terapi bicara, Mai juga mengikutkan Ivan dalam pelatihan renang. “Ini bertujuan untuk melatih saraf-saraf motorik Ivan,” tutur Mai. Dalam keadaan apapun, Mai selalu meyakin bahwa Ivan akan bisa berubah dan tak berbeda dari anak-anak lainnya. Keyakinan inilah yang selalu dipegang Mai dalam semua usaha-usaha yang dilakukannya demi mengembalikan lagi kemampuan Ivan layaknya anak-anak seusia Ivan.

Advertisement

Entry Filed under: feature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Calendar

February 2009
M T W T F S S
« Dec    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
232425262728  

Most Recent Posts

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.