Setan Inggris

Oleh Sari Fitria

“Hi Lin! How’s everything?”
“Not bad, thank you.”
“What about your subject? Is it OK?”
“Yes.”
“By the way, is she your friend?”
“Yep, she’s Arin”
“What a beautiful name! Ops, I have to go, see you Lina, Arin.”
Lina segera menghela nafas panjang setelah kepergian cowok itu.
”Siapa sich tuch Lin? Sok inggris banget dech?” tanya Arin sambil melirik ke arah cowok yang mulai hilang dari pandangan matanya itu.
”Namanya Tomi rin, tetangga sekaligus temen kecil gue. Gue juga illfeel kali ma tu anak. Kalo ketemu gue, ngomongnya pasti sok inggris gitu. Mentang-mentang mahasiswa bahasa inggris” jawab Lina sinis yang dibalas anggukan Arin.
”Ho’oh Lin, kita juga mahasiswa Bahasa Inggris, tapi nggak segitu banget dech. Lagian pede banget ya temen lu, baru mahasiswa taun pertama dah ngomonng sok inggris gitu di luar kelas. Emang dia selalu ngomong Inggris ya?”
”Ga tau juga sich, tapi klo ketemu gue, si Tomi emang sering ngomong Inggris gitu. Dasar setan inggris tu orang.”
Arin yang ngedenger Lina manggil Tomi dengan sebutan setan inggris langsung ngakak. ”Keren tuh Lin namanya, setan inggris, hehe.., mulai sekarang kita manggil dia dengan nama setan inggris aja, cocok banget tuch ma dia” komentar Arin, mereka berdua pun langsung ketawa ngakak sambil ngebayangin cowok putih, jangkung, dan rada cute itu.
***
”Bener lho girls, si setan inggris tu pede banget. Dia nyapa Lina truz nanya-nanya pake english gitu,” cerita Arin antusias kepada beberapa teman sekelasnya. Lina yang juga berada di sana juga ikut ngangguk-ngangguk membenarkan omongan Arin.
”Tapi lo bisa balas omongan dia pake inggris juga khan Lin?” tanya Rara, cewek tomboi yang antusias mendengar kelanjutan cerita tentang setan inggris. ”Secara kelas kita khan lebih unggul daripada kelas si setan inggris itu. Lagian, lo juga lebih pinter dari dia khan. IP lo kemaren ja 4,” lanjut Rara lagi.
”Ya iyalah Ra, Lina tu lebih pinter ngomong inggrisnya. Kalo gue denger nich ya, pronounciation si setan inggris ga ok-ok banget kok.” tambah Arin lagi.
”Dia ngomong inggris ma lo juga nggak rin?” kali ini gilirin Devi, cewek pendek kurus yang nanya Arin.
”Iya, dia ngelirik ke arah gue trus nanya nanya is she your friend?” jawab Arin menirukan gaya Tomi saat nanya Lina tentang dirinya. Semua yang mendengarkan langsung pasang tampang jelek setelah mendengarkan cerita Arin.
”Gue jadi nggak sabar dech pengen ngeliat yang mana sich si setan inggris itu.” Ujar Devi yang dibalas anggukan dari yang lain.
“Kayaknya gue tau dech si setan inggris itu” Nadia yang dari tadi diam aja mulai angkat bicara. “Setan Inggris tu Tomi Afrianto yang anak kelas B itu kan?” tanya Nadia lagi mencoba meyakinkan dugaannya.
“Emang itu orangnya, cowok putih, kurus, dan rada cute itu” Lina langsung mengiyakan pertanyaan Nadia.
“Oo, dia orangnya. Berarti si setan inggris itu temen sekelas gue pas belajar listening dong!” ujar Nadia lagi dengan wajah berbinar karena sudah tau siapa cowok yang disebut-sebut sebagai setan inggris itu.
Nadia pun berjanji pada teman-teman lainnya akan menunjukkan cowok yang bernama Tomi Afrianto, atau yang lebih akrab dipanggil setan inggris oleh teman-temannya itu.
Akhirnya semua penasaran yang ada di kepala Dewi, Rara, dan yang lainnya pun sudah terpenuhi karena akhirnya mereka tau wujud dari si setan inggris.
“Itu lho, Cowok yang pake kaos biru,” jelas Nadia sambil mengarahkan telunjuknya ke cowok yang sedang membaca-baca pengumuman di depan jurusan Bahasa Inggris.
“Iya bener, itu dia setan inggris yang gue omongin dari kemaren,” tambah Lina sambil memonyongkan mulutnya ke arah cowok yang dulu teman akrabnya sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar. Anak lain pun langsung mengangguk setelah dapat menangkap sosok setan inggris yang sempat membuat mereka penasaran itu.
Tiba-tiba saja cowok yang berbaju biru itu menyadari kehadiran Lina dan langsung berjalan menghampiri Lina dan teman-temannya.
“ Hai Lin, Are you OK today?? By the way, are you at home at 4.00?”
“Yes, what’s up?”
“ Nothing special, but I hope we can talk together at 4.00, can you?”
“ I think so”
“Great, see you later Lin. Oo, maybe sometimes you can introduce your friends to me. I’ll be happy to be their friends, too.”
Teman-teman Lina yang menyaksikan perckapan singkat itu langsung heboh setelah kepergian Tomi.
“Gila, songong banget sich tu orang! Sok inggris banget” ujar Rara dengan nada mengejek. Yang lain mengangguk tanda setuju dengan ucapan Rara.
“Iya, dasar setan inggris!” umpat Lina kesal.
“Girls, bentar dulu dech, kok gue ngerasa setan inggris itu baek ya?” Nadia mulai mengemukakan pendapatnya yang berbeda dengan temanya yang laen.
“Baek gimana maksud lo?” tanya Dewi tidak setuju dengan pendapat Nadia.
“Kalian dengar nggak sich, tadi tu dia bilang kalo dia bakalan seneng jadi temen kita, lagian dia juga senyum kan ma kita. Tomi itu ramah lagi,” jelas Nadia merasa bersalah telah memanggil Tomi dengan sebutan setan inggris. Sayangnya, tak satu pun yang menghiraukan ucapannya, termasuk Lina yang telah kenal Tomi sejak dulu.
***
“Halo, kenapa Lin?” jawab Nadia sambil mendekatkan Nokia 7610 nya ke telinga. Tak terdengar sepatah kata pun dari seberang sana. “Lin, lo nggak baek-baek aja khan?” tanya Nadia lagi mulai khawatir.
Mulai terdengar suara dari seberang sana.
“Nad, gue mau ngomong tentang Tomi,” Lina mulai bicara dengan nada suara yang tak seperti biasanya.
“Kok suara lo kayak sedih gitu sich Lin? Emangnya kenapa sama si Tomi? Oia, jam empat tadi lo jadi ketemu ma dia? Ngomongin apa aja lo?”
“Itu dia Nad, gue jahat banget dech udah ngecap dia sebagai setan inggris”
“Kok lo jadi berubah pikiran gitu Lin? Mang Tomi ngomong apa ma lo?”
“Tadi tu Tomi cerita ke gue, katanya, papa dia nggak puas dengan IP nya yang kemaren. Papa Tomi bilang kalo dia nggak bisa ningkatin IP nya semester ini, papa nya Tomi bakal ngirim dia buat balik lagi ke Semarang. Nad, Tomi tu teman akrab gue waktu SD, waktu tamat SD, dia pindah ke Semarang dan baru balik sekarang buat kuliah di sini. Tapi, kayaknya papa Tomi lebih senang kalo dia kuliah di Semarang deh. Gue nggak tau kenapa Nad, yang pasti Tomi bilang dia mau tetap di Padang. Dia nggak mau ninggalin Padang lagi. Dia sering ngomong inggris ma gue dengan harapan gue bisa langsung ngoreksi kesalahan grammar dan pronounciation dia waktu ngomong. Gue jahat banget ya Nad,” cerita Nadia panjang lebar dengan suara penuh penyesalan.
“Nggak kok Lin, lo nggak jahat. Buktinya lo dah ngerasa bersalah banget kan? Lin, besok lo kenalin Tomi ma gue dan teman-teman kita yang lain ya, Tomi said that he will be very happy if he can be one of our friends, right?”
“Idih, Nad, lo ngapain sok ngomong inggris gitu, mau dipanggil setan inggris juga lo?”
“Yeeeeeeee, gue khan juga pengen lo ngoreksi grammar gue Lin. Dah bener atau belom tu kalimat gue yang tadi?”
Lina tak membalas pertanyyan Nadya. Dia merasa senang karena hubungannya dengan Tomi akan kembali indah seperti waktu mereka di Sekolah Dasar dulu.
***

Add a comment February 28, 2009

Meningitis Menguji Kesabaran Seorang Ibu

Kesabaran seorang ibu diuji, itulah yang dirasakan Siti Nurmaida (36 th) selama lima tahun terakhir ini. Bagaimana tidak, dikala seorang ibu dikarunia anak, biasanya kebahagianlah yang melimpah ruah. Namum, tidak begitu yang dirasakan Mai (panggilan karab Siti Nurmaida) sejak buah hainya, Ivan divonis mengidap meningtis (radang selaput otak) krtika masih berusia 1,5 tahun. Kejadiannya berlangsung lima tahun yang lalu ketika Mai masih tinggal di Pekanbaru. Saat itu anak keduanya, Iven yang masih berusia 1,5 tahun mengalami demam yang diikuti diare dan derajat celcius. Dengancampak hingga suhu tubuhnya naik hingga 41 panik, Mai dan suaminya membawa Ivan ke Rumah Sakit di kawasan Jalan Soedirman, Pekanbaru dan dokter pun memvonis Ivan terkene meningtis. Lebih lanjut, sang dokter menjelaskanmeningtis adalah virus yang berawal dari demam yang diikuti komplikasi. Akibat virus ini, Ivan mengalami koma selama satu minggu. Kegundahan semakin merasuki Mai saat pihak medis memberi informasi dari sepuluh anak yang terkena merintis, cuma satu orang yang selamat. Kala itu hati Mai benar-benar diterpa kekhawatiran yang mendalam melihat keadaan buah hatinya itu.
Tampaknya secercah sinar kebahagiian mulai tampak oleh Mai. Ivan mulai menemukan kesadarannya setelah satu minggu dalam diam. Tapi, kesabaran Mai kembali diuji karena setelah sadar dari koma, kondisi Ivan kembali seperti bayi yang dilahirkan, badannya kaku dan ia tidak bisa menelungkup. Ternyata virus meningtis telah menyerang saraf motorik Ivan. Ivan yang telah berusia 1,5 tahun pun terjebak dalam kondisi dan keadaan seperti bayi yang baru dilahirkan.
Demi kesembuhan anaknya, Mai dan suaminya memutuskan untuk hijrah ke kota Padang. Dokter dan pengobatan yang sulit didapatkan di Pekanbaru memaksa Mai harus menetap di Padang hingga kini usia Ivan telah menginjak 5 tahun. Meskipun telah bertahun-tahun berlalu sejak Ivan koma, namun virus meningtis masih meninggalkan dampak terhadap tubuh kurus Ivan. Dalam kurun waktu dua bulan sekali, Mai harus membawa Ivan untuk check up ke Rumah Sakit M. Djamil Padang. Dua botol obat yang masing-masingnya berukuran 115 ml pun harus habis diteguk Ivan dalam waktu satu bulan. Usia 5 tahun bagi Ivan juga menguras pikiran Mai untuk memberikan pendidikan anak usia dini bagi Ivan. Jadilah Ivan mengenyam pendidikan TK (Taman Kanak-Kanak) di sebelah Panti Asuhan Budi Mulya di kawasan Simpang Aru.
Persoalan kembali melanda Mai saat guru Ivan bercerita tentang anaknya yang sangat berbeda dari murid TK lainnya. Sedikit pun Ivan tak mau memegang pensil, ia selalu berlari dan bergerak lincah melebih teman-temannya, namun dalam hal berbicara, Ivan tak lebih dari anak yang baru belajar bicara. Kata-kata yang keluar dari mulut Ivan tak sepenuhnya bisa dimengerti oleh orang yang mendengarnya. Hal ini dikarenakan lafal pengucapan Ivan yang masih seperti anak yang baru belajar bicara. Selain itu, Ivan yang selalu kelihatan lincah bergerak tak diiringi dengan kelincahannya untuk berbicara. Hanya sekali-kali saja Ivan mau mengeluarkan suaranya. “Kalau ingin mendengar Ivan berbicara panjang lebar, harus membutuhkan usaha yang keras,” ujar Mai.
Usaha untuk meningkatkan intensitas bicara Ivan membawa guru TKnya memberikan saran kepada Mai untuk mengikutsertakan Ivan ke dalam terapi bicara yang terdapat di Panti Asuhan Budi Mulya yang terletak di sebelah TK Ivan. Mai pun mengikuti saran itu dan mulailah terapi bicara Ivan dilaksanakan sejak Senin, 11 Agustus lalu. Subsidi dari Panti Asuhan tersebut menyebabkan Mai tak perlu membayar sepeserpun untuk terapi Ivan. Selama lima hari, dari Senin hingga Jum’at, Ivan dipancing untuk banyak bicara oleh seorang mahasiswa Psikologi Islam IAIN Padang yang bernama Tia. Ivan yang tak bisa diam di tempat dan selalu berlari-lari tak mematahkan semangt Tia untuk melatihnnya berbicara. Metode bermain sambil belajar tanpa paksaan sepertinya menjadi pilihan Tia untuk meningkatkan keamauan Ivan berbicara. Seperti Jum’at (15/8), tampak Tia dan Ivan tengah memegang layang-layang. Tia pun memancing Ivan agar mau mengucapkan ‘layang-layang’ yang diikuti Ivan dengan lafal yang tak begitu jelas. Saat Ivan melihat Handphone Tia, tangan mungilnya segera meraih handphone itu dan dalam sekejap Ivan telah hanyut memainkannnya. Tak diacuhkannya lagi usaha Tia untuk mengajaknya bicara. Begitulah salah satu petikan kegiatan mahasiswa Semester 5 itu dalam terapi bicara Ivan.
Selain terapi bicara, Mai juga mengikutkan Ivan dalam pelatihan renang. “Ini bertujuan untuk melatih saraf-saraf motorik Ivan,” tutur Mai. Dalam keadaan apapun, Mai selalu meyakin bahwa Ivan akan bisa berubah dan tak berbeda dari anak-anak lainnya. Keyakinan inilah yang selalu dipegang Mai dalam semua usaha-usaha yang dilakukannya demi mengembalikan lagi kemampuan Ivan layaknya anak-anak seusia Ivan.

Add a comment February 13, 2009

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Add a comment December 30, 2008

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

February 2012
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Most Recent Posts

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.